auto_stories
RENUNGAN HARIAN

Panggilan Menjadi Saksi Kristus

Membangun Iman dan Rohani Jemaat Setiap Hari Melalui Kebenaran Firman-Nya.

Edisi: 16 May 2026

menu_book
menu_book Kisah Para Rasul 1 : 6 – 14

"damai kasih sejahtera allah yang melampaui segala akal dan itulah kiranya yang memelihara kamu sekalian di dalam Yesus Kristus Tuhan, Amin."

REFLEKSI IMAN

Meresapi Firman Tuhan

Kenaikan Tuhan Yesus adalah momen terakhir para murid melihat Tuhan Yesus dalam wujud fisik sebelum Ia naik ke surga. Tidak ada tanda langsung dalam teks yang mengungkapkan bahwa para murid sadar inilah pertemuan terakhir mereka secara fisik. Namun, beratnya pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan ada kesadaran mendalam akan perubahan besar yang akan terjadi. Selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya, Ia mengangkat isu tentang Kerajaan Allah (Ay. 3), jadi wajar jika para murid bertanya tentang pemulihan Kerajaan Israel (Ay. 6), yang mereka samakan dengan Kerajaan Allah. Pemahaman para murid tentang Kerajaan Allah terkait erat dengan pemulihan kerajaan yang bersifat politik dan teritorial. Tuhan Yesus tidak menyangkal pemulihan itu akan terjadi, hanya menegaskan bahwa waktu tepatnya bukan untuk mereka ketahui, bahwa “masa dan waktu” adalah urusan Allah bukan urusan mereka. Mereka telah bertanya tentang pemulihan kekuasaan politik Israel namun Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa mereka akan menerima kuasa yang berbeda, yaitu kuasa Allah yang disalurkan kepada mereka melalui perantaraan Roh Kudus. Roh Kudus yang sama inilah yang memberi kuasa kepada Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya di bumi. Sekarang Roh Kudus ini akan memberi kuasa kepada para murid pada hari Pentakosta (dan banyak orang percaya setelah Pentakosta) untuk menggenapi apa yang Tuhan Yesus inginkan agar mereka dimampukan bersaksi tentang Dia melintasi batas budaya, bangsa, dan wilayah geografis (Ay. 8). Tuhan Yesus perlahan terangkat meninggalkan murid-murid-Nya, awan yang menyelubungi-Nya mengingatkan pada awan kemuliaan atau “Shekinah” (bhs. Ibrani shekinah berarti “diam” atau “berada di tengah”), simbol kehadiran Allah yang nyata dalam Perjanjian Lama dan Baru, seperti awan kemuliaan di Kemah Suci/Tabernakel (Kel. 40), awan di Gunung Sinai (Kel. 19), awan yang memimpin Israel (Kel. 13), peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus (Mat. 17). Shekinah adalah pengingat bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh. Dia adalah Allah yang hadir dan tinggal menyertai umat-Nya. Kehadiran-Nya terus berlanjut sampai sekarang melalui karya Roh Kudus.\r\n\r\nKehadiran kedua pria berpakaian putih/malaikat (Ay. 10-11) mengingatkan para murid untuk fokus pada perintah Tuhan Yesus, yaitu kembali ke Yerusalem dan melanjutkan misi mereka. Mereka diminta tidak terpaku ke mana dan bagaimana Tuhan Yesus pergi, tetapi mereka harus melangkah maju dalam pelayanan menjadi saksi Kristus. Mereka taat pada perintah Tuhan Yesus untuk menunggu kedatangan Roh Kudus. Walau Tuhan Yesus tidak lagi hadir secara fisik, mereka tetap melakukan perintah-Nya dengan setia. Di ruang atas di Yerusalem itu, para murid Yesus bersama dengan murid yang lain terus berdoa dengan kesungguhan dan harapan. Ini menunjukkan bahwa taat, bersekutu, dan berdoa adalah tiga langkah penting dalam menjalankan kehendak Allah.\r\n\r\n1 Petrus 4 : 12 – 14; 5 : 6 – 11\r\nPetrus menasihati para saudara seiman, orang-orang Kristen yang tersebar di provinsi – provinsi Romawi di Asia Kecil agar tidak merasa heran atau terkejut saat mengalami “nyala api siksaan” (Ay. 12), yaitu penganiayaan dan penderitaan yang datang sebagai ujian iman mereka. Karena mereka turut menderita bersama Kristus, Petrus mengajak mereka untuk bersukacita. Sukacita ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi untuk hari kemuliaan Tuhan Yesus kelak, ketika Kristus dinyatakan secara penuh. Orang percaya harus berbahagia jika mereka mengalami penghinaan atau siksaan karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan (Roh Allah) ada di dalam mereka. Kehadiran Roh Kudus adalah jaminan dan penghiburan bahwa mereka bukan dibiarkan sendirian dalam penderitaan.\r\n\r\nKarena itu, Petrus mengajak orang percaya untuk merendahkan diri di bawah kuasa Allah yang besar agar Dia dapat meninggikan mereka pada waktu yang tepat serta menyerahkan semua kekhawatiran mereka kepada-Nya, sebab Dialah yang memelihara dan memperhatikan kehidupan umat-Nya (Ay. 7). Petrus mengingatkan umat untuk tetap sadar dan selalu waspada, karena musuh mereka, si Iblis, sedang berkeliaran di sekitar mereka layaknya Singa yang mengaum, mencari kesempatan untuk menangkap dan memakan siapa pun yang dapat ia kuasai. Umat percaya harus melawannya dengan iman yang teguh, sebab mereka tahu bahwa saudara-saudari seiman mereka di seluruh dunia juga mengalami penderitaan yang sama. Petrus menutup bagian ini dengan doa (Ay. 10-11) agar Allah, sumber kasih karunia, menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam hidup umat kepunyaan-Nya. Itulah yang akan menyempurnakan, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kehidupan orang percaya setelah mengalami penderitaan sesaat di dunia. Segala kemuliaan dan kuasa adalah milik Allah sampai selama-lamanya.\r\n\r\nYohanes 17 : 1 – 11\r\nYesus menutup pengajaran panjang-Nya kepada para murid (Yoh. 13–16) dengan berdoa kepada Bapa. Dalam doa ini, Ia menengadah ke langit dan memohon agar Bapa memuliakan-Nya, agar melalui kemuliaan itu Ia pun dapat memuliakan Bapa. Yesus menyadari bahwa Ia telah menerima otoritas dari Bapa untuk memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah diberikan kepada-Nya. Hidup kekal itu bukan sekadar hidup tanpa akhir, tetapi suatu kualitas hidup yang berasal dari hubungan yang intim dan sejati dengan Allah dan dengan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Yesus menegaskan bahwa Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang Bapa tugaskan selama Ia di dunia untuk menyatakan kasih, kuasa, dan kebenaran Allah kepada umat manusia.\r\n\r\nYesus memperkenalkan siapa Allah sebenarnya kepada para murid, yaitu mereka yang telah dipilih dari dunia dan diserahkan kepada-Nya. Ia menyatakan nama “Bapa” bukan sekadar sebutan, tetapi seluruh karakter dan kehadiran-Nya sebagai Allah yang hidup. Dengan menyebut Allah sebagai “Bapa“, Yesus membuka jalan agar manusia bisa berhubungan dengan Allah secara dekat dan pribadi. Dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia tidak berdoa untuk dunia, tetapi secara khusus untuk murid-murid yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Kata “dunia” (Ay. 9) di sini bukan merujuk pada bumi atau seluruh umat manusia, melainkan pada sistem dunia yang menentang Allah, dunia yang menolak kebenaran dan hidup dalam pemberontakan terhadap Sang Pencipta. Bukan berarti Yesus tidak mengasihi dunia namun sebaliknya, Injil ini menunjukkan bahwa kasih Allah begitu besar hingga Ia mengutus Anak-Nya demi keselamatan dunia. Namun dalam momen ini, fokus doa Yesus adalah perlindungan bagi para pengikut-Nya yang harus tetap tinggal di tengah dunia yang bermusuhan.\r\n\r\nYesus tahu bahwa saat-Nya untuk kembali kepada Bapa telah tiba. Ia akan segera meninggalkan dunia ini, tetapi murid-murid akan tetap berada di dalamnya. Karena itu, Ia dengan penuh kerinduan berseru, “Bapa yang Kudus” (Ay. 11), sebuah panggilan yang mencerminkan sifat Allah yang benar dan tak bercela. Ia memohon agar Bapa menjaga murid-murid dalam nama-Nya agar mereka tetap hidup sesuai dengan identitas ilahi yang telah diberikan kepada mereka, bahwa mereka tetap setia, kudus, dan teguh dalam iman, meskipun hidup di tengah dunia yang asing dan penuh tantangan. Yesus tidak sekadar berdoa agar mereka terlindung secara fisik, tetapi terutama agar mereka kuat secara rohani, agar mereka tetap setia dan tidak kehilangan jati diri mereka sebagai umat Allah. Ia juga memohon agar mereka menjadi satu, sebagaimana Bapa dan Anak adalah satu. Sebuah kesatuan yang lahir dari kasih, kebenaran, dan tujuan yang sama.\r\n\r\nBenang Merah Tiga Bacaan\r\nKisah Kenaikan Tuhan Yesus menekankan bahwa para murid dan kita umat percaya saat ini diberi kuasa Roh Kudus untuk melanjutkan misi Allah menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Perlu peneguhan iman dan panggilan untuk tetap setia dalam misi Allah meski ada penderitaan yang harus kita alami demi menjadi saksi Kristus. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk taat, bersatu, setia, dan siap menderita demi Kristus dengan penguatan dari Roh Kudus sebagai wujud penyertaan Allah sendiri. Inilah yang menjadi doa dan harapan Tuhan Yesus bagi kita semua umat kepunyaan-Nya.

Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua.